Jumat, 11/01/2024 10:26:00 AM WIB
BirokrasiHeadline

Pentingnya Tobat Nasuha untuk Menjauh dari Jeratan Maksiat

Advertisment

Oleh: Qonita Najiyyah 
(Prodi Hukum Ekonomi Syariah) STISHK Kuningan



KUNINGAN, (BK).- 

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk yang diberi akal dan hati nurani. Dalam hidupnya, manusia bisa memilih untuk berbuat baik atau malah terseret dalam perbuatan buruk. Perbuatan baik mendatangkan pahala, sementara maksiat, seperti meninggalkan salat, berbuat zalim, berjudi, berzina, dan mabuk, menghasilkan dosa. Namun, bahkan manusia yang melakukan dosa sering kali tetap memiliki kesadaran bahwa tindakan tersebut salah dan tidak diridhai Allah Swt. Kesadaran ini adalah langkah awal menuju hidayah, petunjuk Allah agar manusia bisa memperbaiki diri.

Allah menawarkan pintu tobat sebagai jalan bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar. Tobat secara harfiah berarti "kembali," yakni kembali pada jalan yang diridhai Allah Swt. Proses tobat menjadi momen refleksi mendalam yang memungkinkan manusia menghapus dosa dari perilaku maksiat yang telah dilakukannya. Selain membersihkan diri dari dosa, tobat juga membawa kedamaian batin, sebab manusia diharapkan untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap tindakannya.

Allah menganjurkan umat-Nya untuk segera bertobat, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran Surat At Tahrim ayat 8, yang berbunyi, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang semurni-murninya)." Ayat ini menekankan pentingnya tobat yang tulus, yang dilakukan dengan sepenuh hati tanpa ragu.

Meski dianjurkan, tobat bukanlah proses yang mudah. Tantangan, seperti tekanan lingkungan, godaan untuk kembali pada kebiasaan lama, dan kurangnya dukungan sosial, sering menjadi penghalang bagi seseorang yang ingin bertobat. Akibatnya, tidak sedikit yang mengulangi perbuatan dosa setelah bertaubat, jatuh dalam lingkaran maksiat, bertobat, dan terjerumus lagi, sehingga proses ini berulang tanpa akhir. Inilah mengapa tobat yang kita lakukan harus lebih dari sekadar tobat "sambal" – istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan semangat yang hanya hangat di awal tetapi mudah pudar.

Untuk menghindari tobat "sambal" dan memastikan tobat kita termasuk tobatan nasuha yang benar-benar mengubah diri, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

1. Menyegerakan Tobat

Tobat harus disegerakan karena usia adalah misteri Allah. Ajal bisa datang kapan saja, sehingga kesempatan untuk bertobat tidak boleh disia-siakan. Ketika ruh sudah di tenggorokan atau matahari terbit dari barat, pintu tobat sudah tertutup.

2. Tobat yang Ikhlas

Tobat harus dilakukan atas kesadaran dan kemauan sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain.

3. Penyesalan yang Mendalam

Rasa sesal atas kesalahan yang telah diperbuat merupakan dasar dari tobat. Disertai tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, penyesalan ini memperkuat niat untuk kembali ke jalan yang benar.

4. Menyadari Pengawasan Allah

Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan kita bisa menjadi pengingat agar kita menghindari maksiat.

Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari dosa, kita sepatutnya berusaha untuk kembali pada Allah dengan tobat yang tulus, tobat nasuha. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd menegaskan pentingnya melakukan tobat nasuha terhadap semua dosa yang telah dilakukan, agar tidak ada satu pun dosa yang tertinggal tanpa penyesalan. Mari kita jaga diri dari jeratan maksiat dengan tobat yang sebenar-benarnya, demi kedamaian diri dan keridhaan Allah Swt. (Apip/ BK)